KERAPAN SAPI




Konon pada era pemerintahan Pangeran Katandur di keraton Sumenep pada abad 15 (156M), raja arif bijakasana ini senantiasa memikirkan cara agar para petani dapat meningkatkan produksi pertanian. Karena pada saat itu, cara bercocok tanam masih sangat sederhana, yakni menggunakan peralatanserba batu. Sang Pangeran akhirnya menemukan ide cemerlang. Setelah berembuk dengan para cerdik panda, maka dititihkan kepada ahli pertukangan untuk membuat alat yang terbuat dari bambu. Dan alat tersebut ditarik oleh dua ekor sapi, diharapkan dengan bantuan alat tersebut akan mampu mengurangi beban kerja petani. Maka terciptalah sebuah peralatan, yaitu bajak yang ditarik oleh dua ekor sapi.
Pangeran Katandur adalah seorang pemimpin yang penuh dengan pemikiran kreatif dan inovatif. Ketika melihat sebagian rakyatnya berkurang kesibukannya seusai panen, terpikir oleh Sang Pangeran untuk memanfaatkan waktu luang dan terbuang tersebut. Semacam keramaian sekaligus kegiatan rekreasi yang nantinya akan mampu meningkatkan produksi, baik produksi peternakan maupun produksi pertanian.
Ide cemerlang pun terlahir yaitu sebuah bentuk permainan yang mengasyikkan terbentang di benak pikiran sang Pangeran. Permainan yang muncul di pelupuk mata adalah semacam perlombaan. Perlombaan memacu sapi dengan cara memacu berpasang-pasang sapi dalam sebuah areal tegalan yang luas. Dan dalam permainan tersebut, pasangan sapi yang diperlombakan dalam pacuan harus menggunakan peralatan serupa “bajak”, yang biasa dipakai untuk menggarap sawah lading.
Dalam benak Sang Pangeran, permainan dan perlombaan itu tidaklah jauh kaitannya dengan kegiatan sehari-hari para petani. Dalam arti, bentuk permainan itu nantinya dapat memberikan motivasi dan kecintaan rakyat serta kewajibannya pada sawah ladang. Disamping itu agar rakyat mampu meningkatkan hasil ternak sapi. Dalam arti mampu meningkatkan hasil ternak sapi yang sehat, sehingga daoat diadu larinya dan juga mampu menghasilkan daging sapi bermutu tinggi.
Gagasan Pangeran Katandur terwujud, mula-mula penggandeng pasangan sapi itu terbuat dari bamboo. Bentuknya pun serupa bajak. Tetapi ujung bawahnya dibuat rata, sehingga tidak mendongkel tanah. Alat tersebut dinamakan “Kaleles” . Sejak saat itulah, kerapan sapi menjadi perlombaan dan permainan rakyat yang sangat digemari. Pada umumnya perlombaan ini diadakan seusai panen.
Dari masa ke masa pacuan Kerapan Sapi menjadi bentuk pesta hiburan rakyat dan menjadi tersohor seantero jagat. Pada akhirnya identitas pulau Madura tidak terlepas dari tradisi budaya rakyat ini. Kisah tentang kejantanan para joki ketika menunggangi Sapi Kerapan dalam sebuah arena,memacu pasangan sapi dalam kecepatan tinggi. Kecepatan, ketangkasan, kecekatan, kepiawaian ketika mengendalikan sapi-sapi tunggangan, merupakan sebuah prestasi fantastis dan menakjubkan. Tak kalah dengan kepiawaian para matador di gelanggang adu banteng di Spanyol.
Disamping sebagai sarana hiburan, pacuan Kerapan Sapi mampu menanamkan kecintaan rakyat terhadap alam dan lingkungannya, memotivasi sekaligus mengangkat rakyat pada tingkat kemakmuran tinggi. Gagasan Pangeran Katandur yang spektakuler tersebut ternyata mampu meningkatkan produksi pangan. Karena untuk mendapatkan sapi yang bagus dan mutu daging tinggi diperlukan makanan berkualitas. Dari sector ini, raja Katandur mampu menggerakkan rakyat untuk melakukan penghijauan serta meningkatkan semangat dan gairah kerja dalam mengolah dan mengelola tanah.
Tak kalah pentingnya adalah peningkatan kualitas ternak. Prioritas utama adalah dalam bidang ilmu beternak sapi. Minat dan perhatian rakyat terpusat pada cara-cara yang baik, praktis dalam pengembang-biakan sapi. Usaha peternakan sapi tidak saja dikaitkan pada kepentingan pertanian semata, tapi juga pada bibit-bibit sapi yang sehat dan mampu beralari kencang. Pada akhirnya para peternak bukan hanya mampu menghasilkan sapi yang bagus, berbobot dan, mampu berlari kencang, tapi juga mampu mengembangkan ternak yang menghasilkan daging bermutu tinggi. Sampai sekarang daging sapi Madura dikenal karena sangat lembut dan halus serat-seratnya.
Keberhasilan Pangeran Katandur dalam memicu serta memacu gairah rakyat dalam peningkatan kemakmuran merupakan sesuatu yang sangat prestisius. Kejeniusannya dalam mengembangkan gagasannya sampai sekarang masih terasa. Pesta rakyat aduan sapi yang sekarang lebih dikenal dengan Kerapan Sapi telah berkembang sedemikian rupa. Karena dengan adanya kerapan sapi ini, telah menggugah dan menggali nuansa seni yang ada dalam diri manusia. Seni tari. seni musik telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari rangakaian acara perlombaan.

Prosesi Pelaksanaan

Sampai saat ini pesta permainan rakyat, Kerapan Sapi diadakan setiap tahun. Dari tingkat wilayah terendah sampai tingkat Karesidenan. Seleksi biasanya diadakan dari tingkat desa, kecamatan, kabupaten sampai tingkat Madura. Konon ketika wilayah Madura masih berada dalam cengkraman colonial Belanda, Kerapan Sapi dilombakan dengan pengaturan dan jadwal sedemikian rupa, sehingga puncak kemeriahan perlombaan jatuh pada tanggal 31 Agustus, tepat hari lahirnya ratu Wilhelmina.
Dalam pelaksanaan perlombaan sebagai ajang pesta rakyat, Kerapan Sapi menyedot semua energi dan aktivitas. Jauh-jauh hari sebelum acara diadakan, perhatian terhadap hewan tersebut sangatlah istimewa. Hewan yang akan dilombakan berada dalm pengawasan yang sangat ketat. dari pola makan, suspensi penambah stamina berupa jamu dan ramuan sampai pada kesiapan dalam bentuk supranatural, jampi-jampi, mantera-mantera. Hal itu dalam upaya agar sapi nantinya menjadi yang tercepat, terdepan dan menang.
Adapun kesibukan yang dilakukan sebelum acara perlombaan dimulai, antara lain:
1. Pada malam hari sebelum hari kerapan tiba, pemilik beserta keluarga serta para supporternya membawa pasangan sapi ke arena perlombaan. Pasangan sapi tersebut, diiringi seperangkat gamelan dan Saronen. Mereka mengadakan perkemahan, sehingga pada malam hari sebelum hari H tiba, di arena perlombaan menjadi tempat yang sangat meriah. Karena peserta dari daerah lain pun berkumpul di sana,
2. Pada malam tersebut, tak seoarang pun dapat tidur. Karena masing-masing orang telah mempunyai tugas dan kewajiban. Terutama petugas perawat sapi, disamping memijat-mijat (massage) juga menjaga pembakaran. Dengan tujuan agar tak seekor nyamuk pun datang mendekat. Bahkan dari sebagian anggota rombongan melakukan tirakat, agar keesokan harinya sapi yang menjadi andalan keluar sebagai pemenang,
3. Pada pagi hari, sepasang sapi digandengkan pada Kaleles, dan didandani sedemikian rupa sehingga sepasang sapi tersebut berpenampilan keren, gagah dan menarik. Setelah itu, sepasang sapi tersebut diarak keliling lapangan diiringi oleh bunyi “taktuk” (semacam seperangkat gamelan), yang bertalu-talu serta Saronen. Tingkah polah para pengiring pun tak kalah meriah, ada yang membisiki sapi dengan rayuan kata-kata indah agar berjuang untuk menang, ada pula yang menari-nari sambil bernyanyi.
4. Setelah melakukan seremonial mengelilingi lapangan, sepasang sapi tersebut dibawa ke tempat yang teduh, menunggu giliran nomor perlombaan. Semua di tubuh sapi ditanggalkan dan sepasang sapi tersebut telah siap tempur untuk memacu kecepatannya berlari.

0 komentar:

:)) :)] ;)) ;;) :D ;) :p :(( :) :( :X =(( :-o :-/ :-* :| 8-} ~x( :-t b-( :-L x( =))

Posting Komentar

cboxzzz,,,,,